Oleh : KH.Rahmat Abdullah
Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya."Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan
campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita."Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita."Siapa sih sepagi ini mengintai kita?" sang ibu balik bertanya. "Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita." Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, 'Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.
Tuan & Nyoya Da'wah yang saya hormati, Tentu saja istilah baitu da'wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato.Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar
seperti laiknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara
mandiri dan alami namun bertarget jelas.
Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya
sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. "Keterlambatan" itu dapat mengambil
bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh
kesibukan kerja diluar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir
yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.
Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami, atau istri biologis. Sangat kasar kalu diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral "pewarisan nilai-nilai kehidupan" dalam kehidupan mereka tak soal. Buktinya, tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa ada anak manusia bertingkahlaku babi, serigala, harimau, atau musang.
Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak-ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru.Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islami yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.
Misteri Berkah
Saat ini ada beberapa keluarga sederhana, dibimbing oleh "intuisi" kebapakan dan keibuan, mendapat berkah dalam mendidik anak-anak mereka. Anak SMU-nya lulus dengan baik, plus hafal 1000 Alfiah Ibnu Malik, rujukan utama gramatika Arab (Nahwu). Lumayan mengagumkan, jebolan SMU menjadi rujukan sesame mahasiswa di sebuah Universitas terkemuka di Negara Arab. Tahun-tahun berikutnya sang adik menyusul dengan hak beasiswa ke sebuah universitas unggulan di Eropa. Lainnya bisa melakoni dua kuliah yang "pelik" : bahasa Arab di sebuah kolese paling representatif sementara siangnya mengambil jurusan Ekonomi. Kemenakannya hafal Al-Qur'an 30 juz menjelang akhir semester delapan di
institut teknologi paling bergengsi di negeri ini.
Kemenakan lainnya lulus akademi militer angkatan darat tanpa kehilangan kesantriannya yang pekat.
Sang bapak jauh dari penguasaan teori ilmu-ilmu pendidikan. Ketika digali hal yang spesial dari
kelakuannya, muncul jawaban yang signifikan : Kecintaan keluarga tersebut kepada ulama (dalam arti
yang sesungguhnya) dan keberaniannya amar ma'ruf nahi mungkar tanpa harus selalu mengandalkan mimbar tabligh. Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, "Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar, maka anak, isteri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya."
Ternyata memang, keikhlasan seseorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya.Boleh jadi seseorang merasa telah mejadi bagian dari da'wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da'I yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da'iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da'wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.
Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi Keikhlasan yang "naif" Nabi Ibrahim yang rela -demi
melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (QS.Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.
Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur'an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah -ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW- di malam yang sangat berlasan baginya untuk "meratapi" bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh –yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi yang sangat berbeda. Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid : "'Ayahanda,
lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar." (QS.37:102)
Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata,saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, "Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari airbah." (QS.11:43)
Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:
"Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri."
Tiada hari tanpa kebaikan , tiada amal tanpa Ilmu dan Tiada Ibadah yang baik tanpa terus menerus dilakukan That`s my Principle live
Sunday, June 26, 2005
Sebuah kekuatan Iman
Hampir setiap subuh itu tempat yang ku lalui selalu penuh dengan orang-orang yang akan menunaikan pekerjaannya untuk menunggu mobil jemputan mereka , kebetulan jalan yang kulalui menuju Masjid tempat untuk menunggu mobil angkutan dan letaknya memang dipinggir jalan raya .
Waktu adzan Subuh berkumandang pun memang sudah banyak orang-orang berkumpul disitu untuk menunggu jemputan , memang mobil yang mereka tunggu biasanya datang saat adzan subuh berkumandang sehingga mereka harus sudah siap ditempat itu untuk menunggu agar tidak ketinggalan jemputan .Entah mereka saat itu sudah melakukan sholat subuh atau belum yang pasti saat mereka berada dilokasi jemputan itu adzan subuh baru berkumandang , atau mungkin mereka melakukan sholat didalam mobil jemputan dan mungkin juga mereka melakukan sholat saat ditempat kerja mereka saat mereka sampai ditempat kerja masing-masing , dengan konsekuensi akan tidak tepat waktu saat sholat subuh itu .
Tetapi ada fenomena yang jauh dari dugaan tersebut diatas , ada beberapa orang yang dari awal sebelum adzan berkumandang sudah berada dilokasi jemputan dan saat adzan berkumandang pun mereka masih berada dilokasi itu sampai setelah sholat pun mereka masih berada dilokasi tersebut , walaupun jarak masjid hanya dua meter dari lokasi tersebut . Nah..untuk yang satu ini saya tidak habis berpikir dengan keadaan tersebut walapun saya sempat berpikir mungkin mereka orang non muslim tetapi kalau mereka muslim dimana perasaan dia sebagai seorang muslim yang wajib melaksanakan sholat subuh tepat pada waktunya ?..apakah mereka menjamin saat hari itu mereka akan melaksanakan sholat subuh….?? Untuk hal ini saya hanya bisa diam …dan berdo`a agar mereka diberikan kekuatan Iman pada diri mereka dan kepada saya untuk senantiasa konsisten dalam menjalankan agama ini dengan mudah…dan ikhlas tentunya..
Begitulah keadaan umat Islam sekarang ini , wajar kalau sendainya musuh-musuh Islam ingin melakukan penghancuran terhadap Islam mereka melakukannya dengan sedikit-sedikit untuk merubah tingkah laku , pola hidup dan pergaulan untuk menjahui dari nilai-nilai Islam ,..sampai akhirnya Islam seperti buih dilautan mudah dihancurkan ..
Begitupula hal itu bisa jadi tertimpa pada diri kita … bisakah kita menolak atau sekedar untuk tidak berbuat demikian diatas …hanya satu yang bisa kita berharap yaitu dengan Sebuah Kekuatan Imanlah hal itu bisa diatasi ..mudah-mudahan… Amin.
Wallahu`alam bi showab.
( Abu Syahid , Bekasi, 24 Juni 2005 )
Waktu adzan Subuh berkumandang pun memang sudah banyak orang-orang berkumpul disitu untuk menunggu jemputan , memang mobil yang mereka tunggu biasanya datang saat adzan subuh berkumandang sehingga mereka harus sudah siap ditempat itu untuk menunggu agar tidak ketinggalan jemputan .Entah mereka saat itu sudah melakukan sholat subuh atau belum yang pasti saat mereka berada dilokasi jemputan itu adzan subuh baru berkumandang , atau mungkin mereka melakukan sholat didalam mobil jemputan dan mungkin juga mereka melakukan sholat saat ditempat kerja mereka saat mereka sampai ditempat kerja masing-masing , dengan konsekuensi akan tidak tepat waktu saat sholat subuh itu .
Tetapi ada fenomena yang jauh dari dugaan tersebut diatas , ada beberapa orang yang dari awal sebelum adzan berkumandang sudah berada dilokasi jemputan dan saat adzan berkumandang pun mereka masih berada dilokasi itu sampai setelah sholat pun mereka masih berada dilokasi tersebut , walaupun jarak masjid hanya dua meter dari lokasi tersebut . Nah..untuk yang satu ini saya tidak habis berpikir dengan keadaan tersebut walapun saya sempat berpikir mungkin mereka orang non muslim tetapi kalau mereka muslim dimana perasaan dia sebagai seorang muslim yang wajib melaksanakan sholat subuh tepat pada waktunya ?..apakah mereka menjamin saat hari itu mereka akan melaksanakan sholat subuh….?? Untuk hal ini saya hanya bisa diam …dan berdo`a agar mereka diberikan kekuatan Iman pada diri mereka dan kepada saya untuk senantiasa konsisten dalam menjalankan agama ini dengan mudah…dan ikhlas tentunya..
Begitulah keadaan umat Islam sekarang ini , wajar kalau sendainya musuh-musuh Islam ingin melakukan penghancuran terhadap Islam mereka melakukannya dengan sedikit-sedikit untuk merubah tingkah laku , pola hidup dan pergaulan untuk menjahui dari nilai-nilai Islam ,..sampai akhirnya Islam seperti buih dilautan mudah dihancurkan ..
Begitupula hal itu bisa jadi tertimpa pada diri kita … bisakah kita menolak atau sekedar untuk tidak berbuat demikian diatas …hanya satu yang bisa kita berharap yaitu dengan Sebuah Kekuatan Imanlah hal itu bisa diatasi ..mudah-mudahan… Amin.
Wallahu`alam bi showab.
( Abu Syahid , Bekasi, 24 Juni 2005 )
Thursday, June 23, 2005
Dari sebuah ruangan kelas ...
Beautiful 

Seorang guru wanita dengan bersemangat mengajarkan sesuatu kepada
murid-muridnya.
Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam. Guru itu berkata, "Saya punya satu permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat pemadam ini, maka katakanlah "Pemadam!"
Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru pun berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan.
Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam,maka katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi. Tentu saja murid-murid tadi banyak yang keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Anak-anak, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang batil itu batil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi batil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kita akan terbiasa dengan hal itu. Dan kita mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kita tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjad hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, nonton hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa,materialistik & hedonisme kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain."
"Semuanya sudah terbalik." lanjutnya, "Dan tanpa disadari, kita sedikit demi sedikit menerimanya tanpa rasa bahwa itu merupakan satu kesalahan dan kemaksiatan. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu..."
"Baik, sekarang kita menginjak ke permainan kedua.. sebuah permainan yang sangat sering dipertontonkan," begitu Guru melanjutkan. "Ibu punya Qur'an, Ibu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang kamu berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah tanpa memijak karpet?"
Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencuba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. "Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kita dengan terang-terang. Karena tentu kita akan menolaknya mentah mentah. Orang biasa pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kita perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kita tidak sadar."Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina dasar / pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat (prioritas pertama dan utama dimana Rosulullaah membina sahabat dengan Aqidah yang kokoh butuh bertahun-tahun, bagaimana dengan kita?). Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dengan dasar/pondasinya nya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, terus dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tapi mereka akan perlahan-lahan meletihkan kita. Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara-cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak Ibu?" tanya salah seorang murid. "Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain.
Tapi sekarang tidak lagi." "Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar". "Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari berdoa dahulu sebelum pulang..."
Matahari bersinar terik takala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat
belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya...


Seorang guru wanita dengan bersemangat mengajarkan sesuatu kepada
murid-muridnya.
Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam. Guru itu berkata, "Saya punya satu permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat pemadam ini, maka katakanlah "Pemadam!"
Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru pun berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan.
Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam,maka katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi. Tentu saja murid-murid tadi banyak yang keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Anak-anak, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang batil itu batil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi batil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kita akan terbiasa dengan hal itu. Dan kita mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kita tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjad hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, nonton hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa,materialistik & hedonisme kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain."
"Semuanya sudah terbalik." lanjutnya, "Dan tanpa disadari, kita sedikit demi sedikit menerimanya tanpa rasa bahwa itu merupakan satu kesalahan dan kemaksiatan. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu..."
"Baik, sekarang kita menginjak ke permainan kedua.. sebuah permainan yang sangat sering dipertontonkan," begitu Guru melanjutkan. "Ibu punya Qur'an, Ibu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang kamu berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah tanpa memijak karpet?"
Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencuba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. "Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kita dengan terang-terang. Karena tentu kita akan menolaknya mentah mentah. Orang biasa pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kita perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kita tidak sadar."Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina dasar / pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat (prioritas pertama dan utama dimana Rosulullaah membina sahabat dengan Aqidah yang kokoh butuh bertahun-tahun, bagaimana dengan kita?). Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dengan dasar/pondasinya nya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, terus dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tapi mereka akan perlahan-lahan meletihkan kita. Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara-cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak Ibu?" tanya salah seorang murid. "Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain.
Tapi sekarang tidak lagi." "Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar". "Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari berdoa dahulu sebelum pulang..."
Matahari bersinar terik takala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat
belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya...
Rumah Seribu Cermin
Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin". Suatu hari seekor kucing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi, ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria kucing-kucing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah kucing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Sesaat setelah kucing itu pergi, datanglah kucing kecil yang lain. Namun, kucing yang satu ini tidak seceria kucing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah kucing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia mengeong keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu suara kucing yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi."
Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di dunia ini, yang kita lihat adalah cermin gambaran dan kesan dari wajah kita sendiri. Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia akan tampak ramah. Kalau dunia terasa suram, mungkin itu karena kesan yang kita berikan. (Unknown )
Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi, ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria kucing-kucing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah kucing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Sesaat setelah kucing itu pergi, datanglah kucing kecil yang lain. Namun, kucing yang satu ini tidak seceria kucing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah kucing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia mengeong keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu suara kucing yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi."
Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di dunia ini, yang kita lihat adalah cermin gambaran dan kesan dari wajah kita sendiri. Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia akan tampak ramah. Kalau dunia terasa suram, mungkin itu karena kesan yang kita berikan. (Unknown )
Tuesday, June 21, 2005
Orang Kaya dan Anak Kecil
Suatu hari ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan shalat, dia termasuk orang yang shaleh, lalu dia melihat seorang anak kecil yang berumur tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan shalat dengan khusyuk, melakukakan rukuk dan sujud dengan hening dan tenang.
Tatkala anak itu selesai dari shalatnya, mendekatlah si kaya dan terjadilah dialog.
Si kaya : "Anak siapakah kamu?"
Si Anak : "Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku."
Si Kaya : "Maukah kamu menjadi anakku?"
Si Anak : "Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?
Si Kaya : "Ya, tentu."
Si Anak : "Apakah engkau memberi minum kepadaku saat aku haus?"
Si Kaya : "Ya, tentu saja."
Si Anak : "Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?"
Si Kaya : "Ya."
Si Anak : "Apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?"
Takjublah lelaki kaya itu seraya berkata, "Ini tidak mungkin dilakukan!"
Anak kecil itu berkata, "Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat Yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku kemudian menghidupkan kembali."
Lelaki kaya itu berkata kepada si anak, "Benar wahai anakku! Barang siapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupinya."
(65 Kisah Teladan pemuda Islam yang Brilian - Muhammad Sulthan - Pustaka)
Tatkala anak itu selesai dari shalatnya, mendekatlah si kaya dan terjadilah dialog.
Si kaya : "Anak siapakah kamu?"
Si Anak : "Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku."
Si Kaya : "Maukah kamu menjadi anakku?"
Si Anak : "Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?
Si Kaya : "Ya, tentu."
Si Anak : "Apakah engkau memberi minum kepadaku saat aku haus?"
Si Kaya : "Ya, tentu saja."
Si Anak : "Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?"
Si Kaya : "Ya."
Si Anak : "Apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?"
Takjublah lelaki kaya itu seraya berkata, "Ini tidak mungkin dilakukan!"
Anak kecil itu berkata, "Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat Yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku kemudian menghidupkan kembali."
Lelaki kaya itu berkata kepada si anak, "Benar wahai anakku! Barang siapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupinya."
(65 Kisah Teladan pemuda Islam yang Brilian - Muhammad Sulthan - Pustaka)
Subscribe to:
Posts (Atom)