Thursday, January 12, 2012

BAKSO KETAWA


BAKSO KETAWA...ya itulah angan-angan yang mungkin suatu saat entah oleh siapa dan kapan keinginan membuka kuliner makanan BAKSO KETAWA ya ..mungkin kelihatannya aneh....atau mungkin lucu....tapi memang benar kalau dibilang aneh...ya memang aneh kalau dibilang lucu ya....lucu...

Begini....Bakso KETAWA itu singkatan dari KEnyang TAnpa keceWA....karena disini nanti akan ada hal-hal yang membuat kita senang dan fresh ketika selesai menyantap BAKSO KETAWA ini disamping selama makan kita akan dihibur oleh bintang tamu atau humoris yang akan menemani anda makan ditempat ini.

Karena ditempat ini akan ada waktu-waktu tertentu diadakan show para humoris membawakan lelucon atau candaan-candaan mereka disini....sehingga pengunjung akan senang dan bisa berlama-lama duduk sambil menikmati BAKSO sambil KETAWA deh.......

Konsepnya bukan itu aja..... setiap kali pengunjung memesan BAKSO KETAWA ini akan mendapatkan satu buah Bakso yang berbentuk wajah sambil KETAWA, SEDIH, BAHAGIA, BETE, GEMBIRA , dll tergantung suasana hati anda saat itu yang Anda rasakan.

Trus....bukan itu aja...pengunjung juga diperbolehkan memberikan masukan berupa artikel humor, pantun jenaka, cerita lucu , dll yang penting LUCU deh dan membuat orang KETAWA....he he he...tapi ingat jangan menjurus kearah berbau PORNOGRAPI dan PORNOAKSI ...OK...dan setiap Artikel yang dibawakan ditempat tersebut maka akan mendapatkan Surprise berupa Hadiah Menarik, Gratis Makan Bakso 1 porsi, dll.... tentu kirimnya melalui email atau FB dan Tweet tentunya...

Menarik Bukan......
Nah....siapa nih yang mau pakai IDEA ini.....dijamin deh bakalan sukses Usaha Kulinernya......
tapi kalau dah dipake nih IDEA dan sukses jangan lupain ya...yang ngasih Ide....he he he.....ya..minimal gratislah...semangkok BAKSO....he he he..ditunggu...

Saturday, February 19, 2011

Allhamdulillah telah lahir anak kami yang ke-4



Alhamdulillah kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengaruniai kami seorang anak yang ke-4 pada hari Kamis, 13 Januari 2011/08 Shaffar 1432H dengan jenis kelamin Perempuan yang kami beri nama :

Aisyah Nur Kamila

Semoga Allah SWT menjadikan-Nya anak yang solehah dan berguna bagi agamanya, amiin




Aisyah Adinda Kita
by : BIMBO

Aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
Angka SMP dan SMA sembilan rata – rata
Pandai mengarang dan organisasi
Mulai Muharam 1401 memakai jilbab menutup rambutnya
Busana muslimah amat pantasnya

Aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
Index Prestasi tertinggi tiga tahun lamanya
Calon insinyur dan bintang di kampus
Bulan Muharam 1404 tetap berjilbab menutup rambutnya
Busana muslimah amat pantasnya

Aisyah adinda kita tidak banyak berkata
Aisyah adinda kita dia memberi contoh saja

Ada sepuluh Aisyah berbusana muslimah
Ada seratus Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah, Aisyah adinda kita

Friday, January 22, 2010

Inilah Mujahid-Mujahid ku waktu masih kecil





Syahid, Syamil, Rasyid
Semoga Kelak kalian menjadi anak yang sholeh ya nak...Amin

Monday, July 21, 2008

Menyapa Usia Kita

Malam ini, kubuka sebuah buku. Isinya mengguncangkan jiwa. Betapa tidak, di dalamnya dituliskan bahwa usia ‘muda’ bukanlah halangan menggapai kebesaran.

Rio Purboyo TRUSTCO Surabaya - Menyapa Usia Kita

Lihat saja Iwan Gayo, penggagas Seri Buku Pintar, berhasil menjadi jutawan di usia sekitar 30 tahun. Lalu ada Parasian Sihite, agen koran di Jakarta Pusat, di usianya yang baru 35-an tahun, ia telah berhasil mengembangkan omzetnya hingga mencatat transaksi sekitar Rp 1,8 – Rp 2,4 miliar per bulannya.

Lucy Gani Wijaya, saat baru berusia 21 tahun (dan masih berstatus mahasiswi sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta), sudah mampu mempekerjakan 300 tenaga kerja. Usahanya itu – membuat tas, vas bunga, dan tatakan gelas dari limbah kertas koran – telah dipasarkan bahkan ke luar nusantara. Adalah Denmark, Jerman, Kanada, Singapura, dan Australia menjadi pasar setia pembeli produk seorang gadis ‘muda’ asal kota Gudeg itu.

Yang terbaru, seorang arek Suroboyo, mampu menggugah jiwa anak-anak muda lainnya.

Layaknya Bung Tomo di kala itu, gaung keberhasilannya di bidang bisnis makanan, Bos Kebab Turki Baba Rafi ini –Anda sudah tahu siapa dia, telah membuat beberapa pengusaha di luar Indonesia tertarik untuk membeli franchisenya. Dan tak tanggung-tanggung, di usianya yang 23 tahun, usahanya mampu mencetak rekor omzet Rp 1 milyar se bulan, dihasilkan dari 100 unit gerai makanannya di seantero nusantara.

Di luar sana, ada sosok Paul Allen (saat itu berusia 20 tahun) dan Bill Gates (19 tahun), yang mengawali kiprahnya di dunia digital. Pun juga Michael Dell, pendiri Dell Computer, memulai bisnisnya di usia muda, sekitar 20 tahunan. Bahkan, tengoklah sejarah di mana ada anak manusia yang berhasil membebaskan sebuah negara di usianya yang ’baru’ 23 tahun.

Tergagap aku melihat semua itu, adakah yang BESAR sudah terjadi pada diri ini? Terdiam aku merenungi hari demi hariku, telahkah tercatat prestasi yang AGUNG selama ini? Tercekat tenggorokanku, mengapa tidak (belumkah?) banyak anak manusia yang bisa menikmati hadirku di dunia? Kapankah datang masa di mana kebaikan menjadi pakaian keseharianku? Oh betapa ruginya telah hidup selama ini tanpa ada kecemerlangan yang bisa menyinari. Belum ada, dan memang belum ada.

But, wait man. Let me make a chance, and prove my words! Jelang seperempat abad usiaku, setahun ke depan kumau yang terbaik. Kutak lagi bersedia berpuas dengan apa yang kurang dari potensi maksimalku.

Malu, aku malu.

Malu pada matahari, yang tiada henti menyinari seisi bumi.
Malu pada purnama, yang hadirmu selalu dirindu.
Malu pada siang, yang terangnya sibuk orang bekerja bersamanya.
Malu pada malam, yang anak manusia beristirahat nyenyak di dalam pelukannya.
Malu pada langit, yang menaungi dari benda-benda galaksi.
Malu pada bumi, yang hamparannya menampung semua anak manusia.
Malu pada jiwa, yang telah diciptakan dengan penuh kesempurnaan.
Malu pada Sunday Morning, yang layak dinikmati bersama kekasih hati.
Malu pada jantung, yang setia berdenyut tanpa kuperintah.
Kuharuskan memulai.

Meski dengan tertatih, sementara sudah ada yang bisa berlari. Kupaksakan menulis selembar melodi hati, meski sudah ada yang menggetarkan dengan lembaran penuh inspirasi. Kuanjurkan diri ini, untuk tidak lagi terperosok dalam di lubang yang sama. Kusegerakan melatih otot-otot mental menjadi lebih kuat dari beban-beban kehidupan.

Kutak mau lagi mengasihani diri, dengan ungkapan ’emang payah hidup di negeri antah-berantah’, karena kusadar, selalu ada yang selamat di antara mereka yang kesulitan. Tetapi, mengapa bukan diri ini?

Sobat TRUSTCO, terimalah goresan alunan pikiran ini dengan lapang jiwamu. Jika ada hal-hal yang sama kita rasakan, sungguh ku tak mau mengajakmu terlalu sendu memandang hidup ini. Kuberharap besar lewat ’rumah baru’ kita ini, ada kemudian hati hati yang mengangkat diri ini melewati setiap tikungan tajam perjalanan kehidupan.

Sampai berjumpa di tulisan berikutnya. Dari seseorang yang bukan siapa-siapa Anda, yang berusaha menjadi sahabat baik Anda. Terima kasih.

Tulisan terakhir dari trainer Rio Purboyo

( Traineer TRUSTCO Surabaya )

Friday, June 27, 2008

This is My Family

Mujahid-Mujahid ku....
Anak ke 3 : Laki-laki
Nama : Muhammad Rasyid Abdullah
Lahir : Bekasi , 30 January 2007

Anak ke 2 : Laki-laki
Nama : Syamil Abdullah Ihsanuddin
Ttl : Bekasi , 29 Februari 2004

Anak Pertama : Laki-laki
Nama : Syahid Abdullah Burhanuddin
Ttl : Bekasi , 27 Februari 2000
Sekarang Kelas 2 SDIT Baiturrahman - Perumnas 3 Bekasi

Sunday, June 22, 2008

Telah Hadir toko Herbal dan Madu

Allhamdulillah kini telah hadir Toko Herbal dan Madu di tengah-tengah dengan nama www.rumahherbalmadu.com , segera hubungi web ini untuk menemukan solusi membantu menyembuhkan penyakit anda melalui pengobatan dengan cara mengkonsumsi Obat-obatan yang aman dan Alami , dengan tidak mempunyai efek samping ,dengan berdasarkan pengobatan-pengobatan cara Nabi Muhammad SAW , dan dipadu dengan obat-obatan alami dari dalam dan luar negeri .

Tunggu Apalagi , Kunjungi web kami di www.rumahherbalmadu.com atau datang langsung di alamat kami Jln.Jendral Sudirman No.25 Kranji Bekasi Barat - Jawa Barat Tlp.021-98123634 Hp.0812-8943804 ....

Kami Tunggu...

Wasalam

Thursday, January 19, 2006

Baru Nyambung Lagi.....After Sleep

Wah.....begini kalau dah lama nggak pegang computer nih tangan kaku banget , maklum habis out dari Perushaan nggak ada computer ...he he habis biasanya pakai comp perusahaan sih....
maklum deh..belum punya komputer...he he...

Allhamdulillah .... baru bisa nulis-nulis lagi nih...do`ain ya..biar terus ngak keputus-putus...he he...buat temen-temen gimana khabarnya...sorry ya...belum bisa berkunjung ke Web sahabat ...

ya. udah gitu aja deh....

wassalam.

Tuesday, August 30, 2005

Mukhoyam 1 Gunung Halimun 26 s/d 28 Agustus 2005 Posted by Picasa

Thursday, July 21, 2005

Today is 10 years SEIN

Ya....hari ini tanggal 22 Juli 2005
10 tahun yang lalu saat saya bergabung dengan SEIN , nggak terasa 10th sudah bekerja di SEIN ini ...

Ya....waktu 10th memang tidaklah waktu yang sebentar perlu kesabaran dan keuletan untuk tetap menjalani amanah ini . Apalagi sekarang saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak akan tambah amanah yang saya emban , terutama amanah untuk memberikan napkah untuk istri dan anak-anak saya.

Ya....10th itu waktu yang panjang...
semoga waktu 10th itu waktu yang berkualitas , waktu yang penuh keberkahan dalam hidup saya...

Amin...
SEIN ( 22 Juli 2005 )
Cikarang...

Abu Syahid

Sunday, July 17, 2005

Lagi Ceramah Posted by Picasa


Allhamdulillah , pada tanggal 16 ~ 17 Juli 2005 , DKM Musholla Al-Hijrah VD Pt.Samsung El,Ind . Mengadakan Rihlah bersama dengan peserta 15 Orang , berangkat hari Jum`at malam langsung dari Pt.Samsung selepas kerja jam.19.30WIB untuk kemudian bermalam di Muara Angke karena menunggu keberangkatan Kapal Motor esok harinya karena memang jadwal keberangkatannya setiap jam.07.30WIB .

Esok harinya kami berangkat tepat jam 07.30WIB sesuai dengan jadwal keberangkatannya , normalnya perjalanan menempuh hampir 3Jam , tapi Asyik juga diatas kapal sambil menikmati suasana , disayangkan untuk wilayah muara angke pantainya kotor dengan sampah hingga beberapa kilo meter dari pantaipun masih banyak sampah sehingga kami kurang begitu menikmati pemandangan ini , setelah menempuh jarak satu jam baru air laut terlihat hijau dan jernih dengan ombak yang sedikit berdesir , selama 3 jam sampailah kami di Pulau Tidung - Kepulauan Seribu dan langsung menuju kerumah teman kami yang asli pulau itu .

Selepas sholat Dzuhur kami pun langsung ke tempat lokasi Camping yang lokasinya tidak jauh dari rumah teman saya . Setelah kami selesai mendirikan tenda kami pun langsung buka acara kegiatan setelah itu kami acara bebas dengan didahulukan mandi dipantai ( maklum kami belum mandi sejak semalam ), diadakan Outbond sedikit dan acara dilanjutkan Mancing Ikan , tapi kami nggak tega mancing ikan disana karena yang kami pancing ikannya bagus-bagus seperti ikan hias , tapi apa boleh buat yang ada memang ikan seperti itu sih .

Malam harinya acara dilanjutkan dengan bakar ikan yang tadi siang kami tangkap , dan sedikit lauk pauk yang kami bawa dari Jakarta . Namun dikarenakan hujan malam itu beberapa orang balik ke rumah teman saya dan sebagian diam ditenda tapi karena hujan disertai angin kencang dan meluapnya air laut akhirnya kami tinggalkan tenda untuk kembali ke bermalam di musholla dekat rumah teman kami .

Pagi harinya kami langsung rapihkan tenda-tenda kami yang semalam kami tinggalkan dengan kondisi basah dan berantakan , tapi Alhamdulillah acara berjalan dengan kesan yang membekas dan senaang ...Kamipun pulang jam.07.30WIB sesuai jadwal keberangkatan kapal .

Akhirnya , dengan bersyukur kepada Allah SWT acara ini telah terlaksana dengan baik , mudah -mudahan Allah SWT memberikan kami waktu lagi untuk menikmati beberapa ciptaan-Nya . Amin.

Pulau Tidung - Kepuluan Seribu , 16 ~ 17 juli 2005
Rihlah Al-Hijrah VD .
Di Pulau Tidung Posted by Picasa


Saat tiba akan pulang didermaga pulau Tidung , kelihatanya seger tuh ..padahal kecapean tuh....
masang tenda Posted by Picasa


Saat Masang tenda di Pinggir pantai Pulau tidung , nggak disangka akhirnya nih tenda malamnya harus dibongkar karena badai hujan sangat kencang . Uji Nyali dinyatakan gagal pada malam itu....tapi Allhamdulillah semuanya selamat.
On the Sea Posted by Picasa


Mejeng dikit euy...di Tengah laut ...
Muara Angke Posted by Picasa


Saat akan berangkat ke pulau Tidung - Kepulauan Seribu , lokasi di Muara Angke jam.07.30 WIB

Monday, July 11, 2005

Padi dan Nasi Sisa

Dulu setiap suku di Indonesia memiliki makanan pokok khas daerah. Meskipun sekarang masih ada, tapi hampir sebagian besar daerah di Indonesia sekarang ini mengkonsumsi beras (nasi) sebagai makanan pokok. Dulu Indonesia dikenal sebagai lumbung padi dengan swasembada beras bahkan sempat mengekspor beras ke luar negri. Catatan hari ini Indonesia termasuk negara yang mengimpor beras dari luar negri sedang 60% lebih penduduk Indonesia hidup di pedesaan dari bertani.
Ada proses yang panjang sebelum menjadi nasi. Petani menanam benih; benih padi tumbuh antara 3 – 6 bulan untuk berbuah dan siap dipanen; padi dipanen dan dijemur; padi digiling menjadi beras; beras dimasak menjadi nasi hingga siap dimakan. Kesimpulannya ada banyak waktu dan banyak tangan yang terlibat disetiap tahapan itu, apalagi jika ditambahkan proses distribusi dari sawah hingga akhirnya sampai ke toko – toko beras, semakin menambah jumlah yang terlibat.
Nenek moyang dan orang tua sangat menghargai beras (nasi). Penghargaan mereka beralasan; karena mereka terlibat dalam setiap tahapan. Dari menabur benih hingga memanen. Dari menggiling hingga memasak dan makan. Di pagi buta mereka ke sawah, di bawah terik mentari mereka bekerja melawan sayatan daun padi, ulat dan ular serta debu padi yang membuat gatal. Wajar bila kita menyisakan satu butir nasi di piring, mereka akan marah, sangat marah bahkan.
Kehidupan kota terlebih wilayah industri seperti Bekasi, seakan telah menyulap segalanya. Industri dan gaya hidup kota menuntut serba cepat dan instan. Begitu pula masalah nasi. Banyak diantara kita yang tidak perlu memasak sendiri dan “tinggal makan” karena nasi sudah siap saji. Dari situlah lambat laun penghargaan manusia terhadap nasi menjadi semakin menurun.
Hampir di setiap jamuan makan, kantin, warung nasi, restoran dan semua tempat yang di situ ada nasi, pastilah ada nasi sisa di tempat pembuangan sampah. Mereka menyisakan nasi dengan beragam alasan. Ada yang menyalahkan juru masak karena nasi terlalu lembek atau terlalu keras. Ada yang menggunjing kualitas beras, kotor dan apek. Ada yang klise; sudah kenyang atau nasinya kebanyakan, lauk tidak enak dan tidak selera. Tapi hasilnya satu, nasi sisa dan akhirnya terbuang percuma.
Cobalah kita hitung. Sebuah Perusahaan dengan 9000 (sembilan ribu) karyawan yang menyediakan makan siang (1 kali makan) untuk enam hari kerja. Misalkan; dengan hitungan kasar 100 gram beras dimasak menghasilkan 200 gram nasi untuk sekali makan per orang. Jika satu orang karyawan menyisakan rata-rata 1/10 (10%) dari nasi yang seharusnya dia makan, maka terbuang nasi sebanyak 20 gram sekali makan. Jika dikalikan 9.000 karyawan terbuang nasi sebanyak180.000 gram atau senilai 90.000 gram beras. Jadi setiap hari di Perusahaan tersebut terbuang 90 kilogram beras. Jika sebulan, maka dikalikan 30 hari menjadi 2.700 kg beras terbuang. Jika setahun, maka dikali 12 bulan menjadi 32.400 kg beras terbuang.
Contoh di atas hanya satu perusahaan. Tahukah Anda berapa perusahaan di Indonesia?!. Jika ada 100 perusahaan dengan jumlah karyawan dan kasus yang sama, maka dikali 100 menjadi 3.240.000 kg beras terbuang setiap tahun, atau setara dengan 3.240 ton. Hitungan di atas diambil minimal, karena menurut hemat kami nasi tersisa bisa mencapai lebih dari 10% per orang, satu orang bukan satu kali tapi tiga kali makan dan jumlah perusahaan bisa lebih dari 100. Lalu berapa beras yang terbuang percuma setiap tahun di negeri pengimpor beras ini?!
Marilah ikuti pesan Rasulullah; “Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”, “Makanlah secukupnya dan jangan berlebihan karena perbuatan mubazr adalah perbuatan syaitan”. Wallahua`lam bishowab.( Sumber : Millis PKS-Kab-Bekasi )

Monday, July 04, 2005

KEMATIAN HATI

Hati Posted by Picasa


Oleh : Ust. Rahmat Abdullah

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,
tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu ?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya ? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat" ? Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan " Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?"

Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana ?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan : sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua" Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari
kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya". Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin
perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, "toko emas berjalan" dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. "Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi selera-ku"

Monday, June 27, 2005

Melembutnya Hati yang Membatu

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS 39:22)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur\'an yang serupa (saling menjelaskan ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang memilih jalan sesat, maka tidak ada seorangpun memberi petunjuk baginya.” (QS 39:23)

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS 2:60)

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:74)

Saudaraku yang dikasihi Allah, sesungguhnya sifat batu adalah keras, walaupun demikian dapat dihancurkan sampai menjadi partikel yang sangat halus. Apabila batu telah berubah menjadi partikel lembut maka akan dapat digunakan sebagai bahan perekat dalam bangunan. Batu berubah menjadi lembut dapat terjadi dalam waktu singkat, yaitu dengan menggunakan benturan benda keras, misalnya dalam
contoh kisah Musa dengan tongkat, dan disela-sela batu yang dipukul itu memancarlah sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh kehidupan manusia, sesuai dengan tugasnya selaku kholifah Allah:

“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS 2:30)

Disamping itu, berubahnya batu yang keras menjadi partikel lembut dapat pula terjadi dalam waktu yang lama, yaitu dengan diberi tetesan air secara terus menerus. Demikianlah ibarat kekerasan hati manusia yang membatu.

Perlakuan benturan benda keras maupun tetesan air yang terus menerus tersebut pada prinsipnya untuk mengajar si nafsu tunduk sehingga hati menjadi lembut.

Hati yang membatu sangat sulit menerima sentuhan halus Ilaahiyah. Buktinya apabila dibacakan ayat-ayat Al Qur\'an tidak dapat tersentuh sehingga tidak ada getaran-getaran yang membahana di setiap relung hatinya (sebagaimana pada
QS 39:23). Hati yang keras berbeda dengan hati yang lembut (QS 39:22). Hati yang lembut mudah sekali disentuh ayat-ayat Al Qur\'an antara lain begitu mendengar adzan bergema bergegas untuk sholat dan apabila dibacakan ayat-ayat Al Qur\'an maka di dalam hatinya dirasakan ada sesuatu yang mudah menyentuh sehingga mudah menangis. Dia menangis karena merasakan betapa rahmannya Allah kepadanya dan sampai kehabisan kata-kata untuk berucap terimakasih, mengingat dirinya yang masih penuh dosa-dosa tetapi kasih sayang Allah itu terus menjamah kepada dirinya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS 8:2).

Harum semerbak bunga melati di taman puri
Dijadikan hiasan mahkota mempelai putri
Tanda/lambang kesucian dan kelembutan hati
Lembutnya hati bila berhiaskan Asma Ilaahi

Lembut tampaknya buih dihempas ombak
Terpukau mata seakan kabut yang berarak
Padahal buih sisa hempasan perasaan riak-riak
Banyak manusia seakan dirinya berakhlaq
Padahal hatinya senantiasa memberontak
Akui berhati lembut, ternyata keras berpijak.

Baru disadari ternyata diri banyak tertipu
Menyangka hati telah lembut
Menyangka diri telah beriman
Menyangka diri telah berbuat baik
Menyangka dan menyangka
Yang selalu diulang dan menjadi bayangan diri
Bukankah ini khayalan yang pasti?

Kini... terlihat batu telah berada dalam suatu proses
Ternyata batu yang keras bukan saja dapat dipecahkan
Melainkan dapat pula dihaluskan laksana tepung
Ternyata disini pulalah letak ketinggian mutunya karena telah berubah fungsi selaku penghalus dan pengokoh suatu bangunan.

Oh... inikah maksud pelajaran dari melembutnya sebongkah batu
Tertunduk wajah menyimpan rasa malu
Seulas cibiran menukik di diri sambil berkata.....
Batu yang keras saja ternyata sabar memproses diri
Lalu bagaimana diri ini: “HATI” hakikatnya
Telah tercipta dalam kondisi lembut
Tak mampu berproses menuju kelembutan
Mengapa diri tak merasa malu dengan kekerasan hati
Bukannya hati yang mengeras.... tetapi nafsulah yang menjadikan hati tampil mengeras

Sehingga tak mampu hati tersentuh kelembutan Ilaahi
Sehingga tak mampu hati menangkap isyarat berhikmah
Sehingga tak mampu hati bergetar dan menangis,
Bila diingatkan dan disentuh ayat-ayat Al Qur\'an.
Oh alangkah keras dan membatunya hati...

Saudaraku yang dikasihi Allah, berdasarkan rangkaian dan untaian kata bermakna di atas, maka diri yang senantiasa bertafakur kepada Allah dapat mengenal dan mengetahui tingkat kekerasan hati pada setiap saat tertentu, karena tolok ukur yang digunakan telah disediakan yaitu: tersentuhnya hati apabila dikumandangkan ayat-ayat Al Qur\'an. Tersentuhnya hati oleh ayat-ayat Al Qur\'an sifatnya otomatis dan tidak dapat dibuat-buat. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa pertolongan
dan petunjuk Allah mustahil hati yang keras itu dapat berubah menjadi lembut. Namun Allah-pun tidak akan membukakan si manusia itu tanpa ada upaya si manusia itu sendiri untuk membuka hatinya. Disinilah bukti bahwa Allah menjamin
penuh kebebasan manusia untuk menentukan sikap terhadap kekerasan hati yang dimilikinya.

Suatu hal yang perlu disadari bahwa selamanya hati tak akan berfungsi bila tali rasa rusak dan mati.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 57:16)

Wahai Allah wahai Rabbi Dzat pendidik kami
Kerasnya hati kami, tak pernah kau membenci
Engkau tersenyum melihat tingkah polah kami
Laksana seorang ibu selalu sabar menjagai
Rahmat terus kau beri agar tersadar diri ini
Sungguh kami adalah hamba yang tak pandai mensyukuri

Wahai Allah wahai Rabbi tempat kami mengadu
Selangkah demi selangkah kami tinggalkan nafsu
Agar mencair hati yang selama ini keras membatu
Baru kami mengerti betapa pemurahnya sifat-Mu
Kami yang selama ini acuh dengan sabar kau tunggu
Oh ternyata kami adalah hamba yang tak mau tahu

Wahai Allah wahai Rabbi sumber segala bahagia
Banyak sudah hidup kami yang tersia-sia
Tanpa kami sadari kelak berakhir petaka
Karena terlena pada keindahan fatamorgana
Mohon kiranya agar waktu yang masih tersisa
Untuk berbakti dan bersyukur selaku hamba

sumber ,http://www.pks-anz.org

Sunday, June 26, 2005

Baitu-d Da'wah

Oleh : KH.Rahmat Abdullah

Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya."Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan
campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita."Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita."Siapa sih sepagi ini mengintai kita?" sang ibu balik bertanya. "Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita." Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, 'Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.

Tuan & Nyoya Da'wah yang saya hormati, Tentu saja istilah baitu da'wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato.Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar
seperti laiknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara
mandiri dan alami namun bertarget jelas.

Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya
sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. "Keterlambatan" itu dapat mengambil
bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh
kesibukan kerja diluar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir
yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.

Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami, atau istri biologis. Sangat kasar kalu diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral "pewarisan nilai-nilai kehidupan" dalam kehidupan mereka tak soal. Buktinya, tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa ada anak manusia bertingkahlaku babi, serigala, harimau, atau musang.

Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak-ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru.Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islami yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.

Misteri Berkah
Saat ini ada beberapa keluarga sederhana, dibimbing oleh "intuisi" kebapakan dan keibuan, mendapat berkah dalam mendidik anak-anak mereka. Anak SMU-nya lulus dengan baik, plus hafal 1000 Alfiah Ibnu Malik, rujukan utama gramatika Arab (Nahwu). Lumayan mengagumkan, jebolan SMU menjadi rujukan sesame mahasiswa di sebuah Universitas terkemuka di Negara Arab. Tahun-tahun berikutnya sang adik menyusul dengan hak beasiswa ke sebuah universitas unggulan di Eropa. Lainnya bisa melakoni dua kuliah yang "pelik" : bahasa Arab di sebuah kolese paling representatif sementara siangnya mengambil jurusan Ekonomi. Kemenakannya hafal Al-Qur'an 30 juz menjelang akhir semester delapan di
institut teknologi paling bergengsi di negeri ini.

Kemenakan lainnya lulus akademi militer angkatan darat tanpa kehilangan kesantriannya yang pekat.
Sang bapak jauh dari penguasaan teori ilmu-ilmu pendidikan. Ketika digali hal yang spesial dari
kelakuannya, muncul jawaban yang signifikan : Kecintaan keluarga tersebut kepada ulama (dalam arti
yang sesungguhnya) dan keberaniannya amar ma'ruf nahi mungkar tanpa harus selalu mengandalkan mimbar tabligh. Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, "Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar, maka anak, isteri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya."

Ternyata memang, keikhlasan seseorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya.Boleh jadi seseorang merasa telah mejadi bagian dari da'wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da'I yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da'iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da'wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.

Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi Keikhlasan yang "naif" Nabi Ibrahim yang rela -demi
melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (QS.Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.

Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur'an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah -ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW- di malam yang sangat berlasan baginya untuk "meratapi" bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh –yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi yang sangat berbeda. Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid : "'Ayahanda,
lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar." (QS.37:102)

Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata,saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, "Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari airbah." (QS.11:43)
Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:

"Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri."

Sebuah kekuatan Iman

Hampir setiap subuh itu tempat yang ku lalui selalu penuh dengan orang-orang yang akan menunaikan pekerjaannya untuk menunggu mobil jemputan mereka , kebetulan jalan yang kulalui menuju Masjid tempat untuk menunggu mobil angkutan dan letaknya memang dipinggir jalan raya .

Waktu adzan Subuh berkumandang pun memang sudah banyak orang-orang berkumpul disitu untuk menunggu jemputan , memang mobil yang mereka tunggu biasanya datang saat adzan subuh berkumandang sehingga mereka harus sudah siap ditempat itu untuk menunggu agar tidak ketinggalan jemputan .Entah mereka saat itu sudah melakukan sholat subuh atau belum yang pasti saat mereka berada dilokasi jemputan itu adzan subuh baru berkumandang , atau mungkin mereka melakukan sholat didalam mobil jemputan dan mungkin juga mereka melakukan sholat saat ditempat kerja mereka saat mereka sampai ditempat kerja masing-masing , dengan konsekuensi akan tidak tepat waktu saat sholat subuh itu .

Tetapi ada fenomena yang jauh dari dugaan tersebut diatas , ada beberapa orang yang dari awal sebelum adzan berkumandang sudah berada dilokasi jemputan dan saat adzan berkumandang pun mereka masih berada dilokasi itu sampai setelah sholat pun mereka masih berada dilokasi tersebut , walaupun jarak masjid hanya dua meter dari lokasi tersebut . Nah..untuk yang satu ini saya tidak habis berpikir dengan keadaan tersebut walapun saya sempat berpikir mungkin mereka orang non muslim tetapi kalau mereka muslim dimana perasaan dia sebagai seorang muslim yang wajib melaksanakan sholat subuh tepat pada waktunya ?..apakah mereka menjamin saat hari itu mereka akan melaksanakan sholat subuh….?? Untuk hal ini saya hanya bisa diam …dan berdo`a agar mereka diberikan kekuatan Iman pada diri mereka dan kepada saya untuk senantiasa konsisten dalam menjalankan agama ini dengan mudah…dan ikhlas tentunya..

Begitulah keadaan umat Islam sekarang ini , wajar kalau sendainya musuh-musuh Islam ingin melakukan penghancuran terhadap Islam mereka melakukannya dengan sedikit-sedikit untuk merubah tingkah laku , pola hidup dan pergaulan untuk menjahui dari nilai-nilai Islam ,..sampai akhirnya Islam seperti buih dilautan mudah dihancurkan ..

Begitupula hal itu bisa jadi tertimpa pada diri kita … bisakah kita menolak atau sekedar untuk tidak berbuat demikian diatas …hanya satu yang bisa kita berharap yaitu dengan Sebuah Kekuatan Imanlah hal itu bisa diatasi ..mudah-mudahan… Amin.

Wallahu`alam bi showab.

( Abu Syahid , Bekasi, 24 Juni 2005 )

Thursday, June 23, 2005

Dari sebuah ruangan kelas ...

Beautiful Posted by Hello

Seorang guru wanita dengan bersemangat mengajarkan sesuatu kepada
murid-muridnya.

Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam. Guru itu berkata, "Saya punya satu permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat pemadam ini, maka katakanlah "Pemadam!"

Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru pun berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan.
Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam,maka katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi. Tentu saja murid-murid tadi banyak yang keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.

Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Anak-anak, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang batil itu batil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi batil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kita akan terbiasa dengan hal itu. Dan kita mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kita tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.

"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjad hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, nonton hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa,materialistik & hedonisme kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain."

"Semuanya sudah terbalik." lanjutnya, "Dan tanpa disadari, kita sedikit demi sedikit menerimanya tanpa rasa bahwa itu merupakan satu kesalahan dan kemaksiatan. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu..."

"Baik, sekarang kita menginjak ke permainan kedua.. sebuah permainan yang sangat sering dipertontonkan," begitu Guru melanjutkan. "Ibu punya Qur'an, Ibu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang kamu berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah tanpa memijak karpet?"

Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencuba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. "Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kita dengan terang-terang. Karena tentu kita akan menolaknya mentah mentah. Orang biasa pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kita perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kita tidak sadar."Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina dasar / pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat (prioritas pertama dan utama dimana Rosulullaah membina sahabat dengan Aqidah yang kokoh butuh bertahun-tahun, bagaimana dengan kita?). Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dengan dasar/pondasinya nya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, terus dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tapi mereka akan perlahan-lahan meletihkan kita. Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara-cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "

"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak Ibu?" tanya salah seorang murid. "Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain.

Tapi sekarang tidak lagi." "Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar". "Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari berdoa dahulu sebelum pulang..."

Matahari bersinar terik takala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat
belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya...